This is my short story "SEPERTI SEHARUSNYA"
written by me @Thamaa_
Cuma cerita abal - abal doang kok !!!
Sekedar menyalurkan hobby yang terpendam .. hahahaha
cerita yang ada cuma fiktif belaka , karangan gw sendiri ! Seriuss gag bohong ..
jadi jika terdapat nama , tempat , nama atau kejadian yang sama itu semuaa tidak disengajaa ..
Okkkeee cekidoootttt ... i hope you like it <3
XXX
Aku kembali meringkuk ditempat tidur yang terasa terlalu besar untukku , aku merasakan setetes air mata mengalir dipipiku .
Merasakan denyut jantung yang sangat pelan dan merasakan sakit yang luar biasaa .
Aku sendiri diruangan besar ini , hanya ditemani beberapa pajangan foto dimeja riasku . Lemari baju dan dinding berwarna biru laut .
Aku selalu seperti ini , sendirian !!
Dan ketika ia pulang dari kantornya , aku akan bangun dari tempat tidurku dan bertanya bagaimana harinya dengan senyum diwajahku walau selalu dibalas dengan senyuman yang terkesan dipaksakan dan dengan keadaan yang uring - uringan .
selalu seperti itu selama lima bulan ini . Aku dapat melihat pancaran matanya yang seakan - akan berkata bahwa dia lelah dan aku merasakan ada keterpaksaan disetiap langkah manisnya terhadapku .
Memikirkan itu semua , membuatku kembali meneteskan airmata. Aku sudah berusaha tidur , tapi aku tidak akan bisa tidur nyenyak jika belum ada panggilan dari salah satu pelayan dirumah mewah ini dan berkata bahwa dia suamiku , Ariel sudah sampai dirumah dengan keadaan mabuk atau minimal dengan keadaan yang tidak bisa dinilang baik - baik saja .
aku selalu mengkhawatirkannya . Takut jika sesuatu terjadi padanya .
Aku selalu takut melewatkan setiap detik yang berharga bersamanya , walaupun detik - detik itu terasa menyakitkan untukku .
Aku terlalu takut jika suatu hari aku tidak mendaptkan panggilan dari pelayan dan berkata bahwa Ariel sudah pulang .
Aku takut kehilangannya .
aku terlalu mencintainya . Walau aku tau cintaku hanya akan membuatnya semakin sengsara , semakin terkekang dan semakin membuatnya bertambah palsu .
Aku beranjak bangun dan mengelap sisa - sisa airmataku saat mendengar ketukan pintu kamar . Aku berjalan kearah pintu kamarku dan membuka pintu , melihat salah satu pelayanku menganggukan kepalanya , menandakan bahwa ia sudah pulang dari kantornya dan tentu saja dengan keadaan yang uring - uringan .
Kakiku berjalan membawaku kelantai bawah lalu aku melihatnya yang sedang memijit kepalanya dan memejamkan mata dengan keadaan yang benar - benar berantakan .
Aku menghampirinya .. "Ariel ?? " panggilku sambil menyentuh lengannya tapi tidak ada sahutan darinya membuatku menghela nafas lalu menarik lengannya , memabantu nya berdiri lalu membantunya berjalan keatas .
kulihat Ariel mengerjapkan matanya lalu erangan kembali keluar dari mulutnya yang berbau alkohol. "Jangan bergerak terlalu banyak , itu akan membuatmu semakin pusing ! Kembalilah berbaring . Aku akan mengambilkanmu minum ." ujarku lalu beranjak meninggalkannya dan mengambil air minum dan obat .
Setelah itu aku kembali kekamar dan kulihat ia sudah terlelap . Aku menaruh gelas dan obat dimeja kecil disamping tempat tidur . "Good night Ariel dan sleep tight sayang" ujarku lalu mengelus dahinya dan aku baru saja akan beranjak untuk tidur disofa ketika dengan tiba - tiba tangan Ariel terjulur mencegah pergerakanku dan membuatku menoleh dan melihatnya membuka mata .
"tidurlah disebelahku !" ujarnya dengan suara serak yang membuatku tersenyum kecil lalu beranjak naik ketempat tidur dan berbaring disampingnya . Tangannya terulur memelukku .
Melingkarkan tangannya dengan sempurna dipinggangku membuatku merasa nyaman dan menutup mataku dengan tenang.
Bisakah aku terus berada dipelukkannya yang terasa nyaman namun menyakitkan ?? Bisakah aku untuk terus bertahan berada disampingnya sedangkan bukan akulah orang yang diharapkannya untuk terus berada disampingnya ??
XXX
Ariel sudah berangkat kekantornya pagi - pagi sekali sebelum aku membuka mata . Aku sudah biasa tidak melihatnya dipagi hari karna dia selalu berangkat tanpa sepengetahuanku. Aku pernah memcoba bangun lebih pagi dari biasanya aku terbangun dari tidur agar bisa melihatnya namun yang kudapatkan tetap sama dan dia tidak ada dikasur seperti ia tahu bahwa aku akan bangun lebih awal dari biasanya .
Aku tersentak begitu merasakan ada tangan besar yang melingkar dipinggangku , membuatku menoleh kearah kanan dan mendapatkan Ariel yang sedang menatap lurus kedepan dan pandangan matanya yang selalu dingin .
Dia memelukku dari belakang tanpa menoleh kearahku membuatku merasakan detak jantungku yang berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Kau sudah pulang ?? Tumben sekali" ujarku memulai pembicaraan . Ariel menoleh kearahku "Aku sengaja pulang lebih awal. Aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kau ada keperluan malam ini ?" tanyanya membuatku sedikit terkejut .
"tidak ada" jawabku membuat Ariel menganggukkan kepalanya .
"Lebih baik kau bersiap - siap sekarang , aku akan menunggumu dibawah" ujarnya lalu ia melepskan tangannya dari pinggangku dan berjalan menajuh .
Aku beranjak kekamar mandi dan untuk membasuh tubuhku dan berganti pakaian .
Setelah membasuh tubuhku dan memakai dress berwarna putih yang tiba- tiba ada dikasurku , aku langsung memakai high heels yang berwarna senada dengan dress yang kukenakan yang kuyakini diberikan oleh Ariel ketika ia keluar dari kamar .
Aku keluar dari kamar dan menghampiri Ariel diruang tamu . Dia terlihat sedang memainkan ponselnya lalu setelah mendengar ketukan pelan dari high heels ku dia mendongak dan berdiri lalu tangannya terulur untuk menggengam tanganku membuatku tersenyum kecil .
Ariel membawaku kerestourant mewah tempat pertama kali kami dijodohkan . Tempat pertama yang merubah segalanya . Tempat yang membuatku telah menyesali semua keputusanku untuk menikah dengannya . Tempat yang membuatku teringat akan tatapan penuh luka yang pertama kali ia perlihat didepanku . Aku memejamkan mataku merasakan hatiku sakit seperti ada sebuah pisau yang menusuk hatiku .
Kemudian aku membuka mataku setelah pintu mobil dibuka oleh Ariel membuatku turun dan berjalan disampingnya . Kami berjalan beriringan hingga sampai pada meja yang dipilih oleh Ariel .
"Kau terlihat lebih diam dari biasanya , ada apa ?" aku menoleh kearah Ariel yang bertanya kepadaku .
"Aku baik - baik saja , hanya malas berbicara" jawabku lalu aku mengetuk - ngetuk mejaku dengan kukuku yang kuberi kutek warna biru muda . Kemudian hening , tidak ada jawaban apapun dari Ariel yang membuatku akhirnya mengalihkan pndanganku dari jendela kearah Ariel . Lalu aku melihatnya memperhatikanku dengan lekan dan tanpa berkedip membuatku gugup .
"Kenapa menatapku seperti itu ?" tanyaku gugup . Ariel menunduk lalu tertawa kecil sambil menggeleng - gelengkan kepalanya membuatku mengernyit . "Nothing , I like you're face . You're beautifull , and you should know it" ucap Ariel membuatku merasa jantungku pindah keperutku .
Aku merasakan senang yang luar biasa mendengar ucapannya tapi sebagian hatiku menolak rasa senang itu , membuatku tersenyum kecil kearahnya "Thank You ..." balasku .
Aku hanya memakan sedikit makananku , setelahnya aku hanya memperhatikan Ariel yang sedang makan dan kemudian aku mengalihkan pandanganku kearah jendela ketika dia melihat kearahku .
Setelah selesai makan , Ariel membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan . Dia bercerita ttg pekerjaannya dikantor yang menumpuk . Dia bercertia masa kecilnya , dia bercerita tentang banyak hal kecuali tentang mantan kekasihnya yang sampai saat ini masih ia cintaii , masih ia inginkan , masih ia dambakan , lalu setelahnya aku akan akan terkekeh atau tersenyum kecil mendengar ceritanya .
"Kemudian aku bertemu denganmu , dijodohkan denganmu dan akhirnya kita mengikat janji untuk setia seumur hidup" ujar Ariel menyelesaikan ceritanya dan tersenyum kearahku .
Tapi aku tidak membalas senyumnnya , aku merasakan senyumannya begitu menyakitkan . Aku kembali mengingat bahwa aku telah membuatnya sengsara dengan tidak menilahi gadis yang ia cintai .
Aku dan Ariel memang sudah terikah dengan janji suci untuk setia sampai akhir hayat tapi dengan janji itupun aku merasa seperti mengikat janji kepada Tuhan untuk selalu menyakitinya karna janji itu tidak pernah diucapkan tulus oleh Ariel, dia hanya mematuhi ibunya untuk menikah denganku . Aku memang terlalu bodoh untuk menyetujui pernikahan itu .
Aku menatap kearah matanya membuatku hilang didalam matanya yang selalu aku sukai , aku merasa mataku penuh dengan airmata . Aku merasa bersalah padanya , dan demi Tuhan tatapan matanya membuatku ingin membunuh diriku sendiri karna setiap kali aku menatapnya rasa bersalah itu akan selalu muncul dan rasa bersalah itu seakan besar dan seakan - akan menghantuiku .
Aku menutup mataku lalu berusaha untuk menghirup udara sebanyak mungkin , berusaha untuk menghilangkan rasa sesak didadaku . Melihatku yang tak kunjung membalas ucapannya, Ariel mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemariku dengan erat kemudian matanya memperhatikan cincin pernikahan kami yang melingkar dijari manisku .
"Cincin ini melingkar sempurna dijarimu dan aku suka itu" ucapnya dan kemudian tangannya mengelus pelan tanganku membuatku merasakan hangat yang menjalar disekujur tubuhku karna sentuhan tangannya yang hangat.
"Ini terlihat sempurna karna memang cincinnya yang indah" ujarku membuatnya terkekeh kecil .
"dan semakin sempurna ketika kau memakainya" ... and i feel my hearts stops and my stomach flip when i heard he said some sweet things like that just like what i feel right now .
lalu ia mencium tanganku dan seketika membuatku meneteskan airmata yang sudah kubensung sejak tadi "kenapa menangis?" tanya Ariel dengan suara lembut ketika airmataku dengan sukses turun melewati pipiku lalu ia beranjak dari kursinya, melangkah ke arahku melangkah ke arahku dan memelukku dengan erat membuat tangisanku tak dapat kubendung lagi . Aku terisak dalam pelukkannya dan dia berusaha untuk menenangkanku , sambil terus bertanya apa yang membuatku menangis . dan aku hanya membalas pelukannya dengan erat dan membiarkan airmataku membasahi kemejanya .
"Aku mencintaimu" tanpa kusangka dua kata itu meluncur dengan bebas dari bibirku dan membuat ia menegang beberapa saat lalu dia kembali mengelus punggungku dengan lembut dan mngecup puncak kepalaku . Ingin rasanya aku berteriak pada Ariel untuk berhenti memperlakukanku secaramanis tapi disisi lain aku selalu ingin perlakuan manisnya yang terasa nyaman dan sakit secara bersamaan . Ingin rasanya aku berteriak bahwa rasa rasa sakit ini segera berhenti tapi aku tidak bisa . Ingin rasanya aku menampar pipinya dan bertanya kenapa ia tidak bisa mencintaiku seperti aku mencintainya . Ingin rasanya aku menampar pipinya , bahwa aku ada disini , bahwa dia sudah memiliki seorang istri . Ingin rasanya aku berkata bahwa dia harus benhenti menemui mantan kekasihnya yang masih ia cintai . Ingin rasanya aku untuk menyuruh ia segera melupakan gadis yang telah memiliki seluruh hati Ariel dan membaginya denganku tapi kemudian aku sadar , akulah penghancurnya .
Akulah yang menghancurkan hubungan dengan gadis yang ia cintai . Akulah yg membuatnya dengan terpaksa menikah denganku . Akulah yg mebuatnya sengsara tapi dia tidak pernah berbuat kasar kepadaku , dia tetap memperlakukanku dengan manis . Aku takut kehilangan Ariel tp disisi lain aku tidak mau terus menyiksanya dengan pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan .
XXX
Ini sudah kesekian kalinya aku melihat Ariel mengerang kesal , mengacak rambutnya karna prustasi dan mengusap wajahnya secara kasar . Aku tahu dia lelah akan sandiwara yang ia buat . Aku tahu dia lelah dengan segala perasaan palsu yang ia buat . Aku menutup mulutku ketika tau ia meneteskan airmatanya , hanya setetes tapi seperti ribuan pisau menusuk jantungku membuatku merasakan sakit yang luar biasa melihat airmata itu . Dia menderita dan itu semua salahku . Aku berjalan mundur perlahan dan kembali kekamar kemudian mengemasi barang - barangku . Dengan cepat aku memasukkan pakaian - pakaianku kedalam koper tp sebuah tangan menghentikan pergerakanku .
"Apa yang kau lakukan ?? " aku mendongak dan melihat Ariel memandangku bingung .
aku menyentakkan tangannya kasar . "Ada apa denganmu??" dia membentakku membuatku menatap kearah matanya dan aku merasakan mataku berair .
"Aku harus pergi" ucapku sambil menggelengkan kepalaku dan mencoba melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku .
'tapi kenapa ?" tanyanya bingung .
"Karna aku tidak mau menyakitimu Ariel !! Lepaskan aku" ucapku terisak lalu menunduk tidak berani menatapnya .
Dia menarik daguku , untuk menatap ke arah matanya "Kau tidak menyakitiku , sama sekali tidak"
"Hentikan ini Ariel , berhentilah membuatku terus mencintaimu , Berhentilah membuat dirimu sendiri terbeban oleh keberadaanku" dia memelukku dengan erat "Maafkan aku , maafkan aku karna tidak bisa membalas cintamu" ujarnya pelan .
kata - katanya menusuk hatiku dengan tepat . Matanya menatapku dengan lekat "You're the kindest person i've ever meet an you deserve someone better than me" andai ia tahu bahwa tidak ada orang yang lebih baik dari dirinya .
XXX
Aku melihatnya tertawa bebas bersama orang yang ia cintai . Jenis tawa yang selalu aku dambakan, aku selalu ingin membuatnya tertawa seperti itu , seperti tidak ada beban yang memberatkannya .
Aku sadar , aku bukanlah orang yang bisa membuatnya tertawa seperti ituu . Aku menatapnya dari jauh . Melihatnya bersama gadis yang ia cintai . Aku melihat pancaran mata yang penuh dengan kebahagian . Tidak lagi kulihat mata yang penuh dengan beban ketika bersamaku .
Aku tersenyum melihat mereka . Mereka terlihat bahagia .
Aku sudah melepasnya , membiarkan ia bersama gadis yang ia cintai . Lebih baik aku menyakiti hatiku sendiri daripada melihatnya menangis .
Aku terlalu mencintainya sampai - sampai terlalu takut untuk menyakitinya .
i once heard quote saying "When someone else happiness in your happiness , it called love" and Ariel happiness in my happiness so i guess called love ? Even though i still want to be a reason of happiness but as long as he is happy , it will make me happy ..
THE END ..
Arrrrrrhhhhh selesaiii jugaaa brooowww ..
i hope you like that ... :*
written by me @Thamaa_
Cuma cerita abal - abal doang kok !!!
Sekedar menyalurkan hobby yang terpendam .. hahahaha
cerita yang ada cuma fiktif belaka , karangan gw sendiri ! Seriuss gag bohong ..
jadi jika terdapat nama , tempat , nama atau kejadian yang sama itu semuaa tidak disengajaa ..
Okkkeee cekidoootttt ... i hope you like it <3
XXX
Aku kembali meringkuk ditempat tidur yang terasa terlalu besar untukku , aku merasakan setetes air mata mengalir dipipiku .
Merasakan denyut jantung yang sangat pelan dan merasakan sakit yang luar biasaa .
Aku sendiri diruangan besar ini , hanya ditemani beberapa pajangan foto dimeja riasku . Lemari baju dan dinding berwarna biru laut .
Aku selalu seperti ini , sendirian !!
Dan ketika ia pulang dari kantornya , aku akan bangun dari tempat tidurku dan bertanya bagaimana harinya dengan senyum diwajahku walau selalu dibalas dengan senyuman yang terkesan dipaksakan dan dengan keadaan yang uring - uringan .
selalu seperti itu selama lima bulan ini . Aku dapat melihat pancaran matanya yang seakan - akan berkata bahwa dia lelah dan aku merasakan ada keterpaksaan disetiap langkah manisnya terhadapku .
Memikirkan itu semua , membuatku kembali meneteskan airmata. Aku sudah berusaha tidur , tapi aku tidak akan bisa tidur nyenyak jika belum ada panggilan dari salah satu pelayan dirumah mewah ini dan berkata bahwa dia suamiku , Ariel sudah sampai dirumah dengan keadaan mabuk atau minimal dengan keadaan yang tidak bisa dinilang baik - baik saja .
aku selalu mengkhawatirkannya . Takut jika sesuatu terjadi padanya .
Aku selalu takut melewatkan setiap detik yang berharga bersamanya , walaupun detik - detik itu terasa menyakitkan untukku .
Aku terlalu takut jika suatu hari aku tidak mendaptkan panggilan dari pelayan dan berkata bahwa Ariel sudah pulang .
Aku takut kehilangannya .
aku terlalu mencintainya . Walau aku tau cintaku hanya akan membuatnya semakin sengsara , semakin terkekang dan semakin membuatnya bertambah palsu .
Aku beranjak bangun dan mengelap sisa - sisa airmataku saat mendengar ketukan pintu kamar . Aku berjalan kearah pintu kamarku dan membuka pintu , melihat salah satu pelayanku menganggukan kepalanya , menandakan bahwa ia sudah pulang dari kantornya dan tentu saja dengan keadaan yang uring - uringan .
Kakiku berjalan membawaku kelantai bawah lalu aku melihatnya yang sedang memijit kepalanya dan memejamkan mata dengan keadaan yang benar - benar berantakan .
Aku menghampirinya .. "Ariel ?? " panggilku sambil menyentuh lengannya tapi tidak ada sahutan darinya membuatku menghela nafas lalu menarik lengannya , memabantu nya berdiri lalu membantunya berjalan keatas .
kulihat Ariel mengerjapkan matanya lalu erangan kembali keluar dari mulutnya yang berbau alkohol. "Jangan bergerak terlalu banyak , itu akan membuatmu semakin pusing ! Kembalilah berbaring . Aku akan mengambilkanmu minum ." ujarku lalu beranjak meninggalkannya dan mengambil air minum dan obat .
Setelah itu aku kembali kekamar dan kulihat ia sudah terlelap . Aku menaruh gelas dan obat dimeja kecil disamping tempat tidur . "Good night Ariel dan sleep tight sayang" ujarku lalu mengelus dahinya dan aku baru saja akan beranjak untuk tidur disofa ketika dengan tiba - tiba tangan Ariel terjulur mencegah pergerakanku dan membuatku menoleh dan melihatnya membuka mata .
"tidurlah disebelahku !" ujarnya dengan suara serak yang membuatku tersenyum kecil lalu beranjak naik ketempat tidur dan berbaring disampingnya . Tangannya terulur memelukku .
Melingkarkan tangannya dengan sempurna dipinggangku membuatku merasa nyaman dan menutup mataku dengan tenang.
Bisakah aku terus berada dipelukkannya yang terasa nyaman namun menyakitkan ?? Bisakah aku untuk terus bertahan berada disampingnya sedangkan bukan akulah orang yang diharapkannya untuk terus berada disampingnya ??
XXX
Ariel sudah berangkat kekantornya pagi - pagi sekali sebelum aku membuka mata . Aku sudah biasa tidak melihatnya dipagi hari karna dia selalu berangkat tanpa sepengetahuanku. Aku pernah memcoba bangun lebih pagi dari biasanya aku terbangun dari tidur agar bisa melihatnya namun yang kudapatkan tetap sama dan dia tidak ada dikasur seperti ia tahu bahwa aku akan bangun lebih awal dari biasanya .
Aku tersentak begitu merasakan ada tangan besar yang melingkar dipinggangku , membuatku menoleh kearah kanan dan mendapatkan Ariel yang sedang menatap lurus kedepan dan pandangan matanya yang selalu dingin .
Dia memelukku dari belakang tanpa menoleh kearahku membuatku merasakan detak jantungku yang berpacu lebih cepat dari biasanya.
"Kau sudah pulang ?? Tumben sekali" ujarku memulai pembicaraan . Ariel menoleh kearahku "Aku sengaja pulang lebih awal. Aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kau ada keperluan malam ini ?" tanyanya membuatku sedikit terkejut .
"tidak ada" jawabku membuat Ariel menganggukkan kepalanya .
"Lebih baik kau bersiap - siap sekarang , aku akan menunggumu dibawah" ujarnya lalu ia melepskan tangannya dari pinggangku dan berjalan menajuh .
Aku beranjak kekamar mandi dan untuk membasuh tubuhku dan berganti pakaian .
Setelah membasuh tubuhku dan memakai dress berwarna putih yang tiba- tiba ada dikasurku , aku langsung memakai high heels yang berwarna senada dengan dress yang kukenakan yang kuyakini diberikan oleh Ariel ketika ia keluar dari kamar .
Aku keluar dari kamar dan menghampiri Ariel diruang tamu . Dia terlihat sedang memainkan ponselnya lalu setelah mendengar ketukan pelan dari high heels ku dia mendongak dan berdiri lalu tangannya terulur untuk menggengam tanganku membuatku tersenyum kecil .
Ariel membawaku kerestourant mewah tempat pertama kali kami dijodohkan . Tempat pertama yang merubah segalanya . Tempat yang membuatku telah menyesali semua keputusanku untuk menikah dengannya . Tempat yang membuatku teringat akan tatapan penuh luka yang pertama kali ia perlihat didepanku . Aku memejamkan mataku merasakan hatiku sakit seperti ada sebuah pisau yang menusuk hatiku .
Kemudian aku membuka mataku setelah pintu mobil dibuka oleh Ariel membuatku turun dan berjalan disampingnya . Kami berjalan beriringan hingga sampai pada meja yang dipilih oleh Ariel .
"Kau terlihat lebih diam dari biasanya , ada apa ?" aku menoleh kearah Ariel yang bertanya kepadaku .
"Aku baik - baik saja , hanya malas berbicara" jawabku lalu aku mengetuk - ngetuk mejaku dengan kukuku yang kuberi kutek warna biru muda . Kemudian hening , tidak ada jawaban apapun dari Ariel yang membuatku akhirnya mengalihkan pndanganku dari jendela kearah Ariel . Lalu aku melihatnya memperhatikanku dengan lekan dan tanpa berkedip membuatku gugup .
"Kenapa menatapku seperti itu ?" tanyaku gugup . Ariel menunduk lalu tertawa kecil sambil menggeleng - gelengkan kepalanya membuatku mengernyit . "Nothing , I like you're face . You're beautifull , and you should know it" ucap Ariel membuatku merasa jantungku pindah keperutku .
Aku merasakan senang yang luar biasa mendengar ucapannya tapi sebagian hatiku menolak rasa senang itu , membuatku tersenyum kecil kearahnya "Thank You ..." balasku .
Aku hanya memakan sedikit makananku , setelahnya aku hanya memperhatikan Ariel yang sedang makan dan kemudian aku mengalihkan pandanganku kearah jendela ketika dia melihat kearahku .
Setelah selesai makan , Ariel membuka mulutnya untuk memulai pembicaraan . Dia bercerita ttg pekerjaannya dikantor yang menumpuk . Dia bercertia masa kecilnya , dia bercerita tentang banyak hal kecuali tentang mantan kekasihnya yang sampai saat ini masih ia cintaii , masih ia inginkan , masih ia dambakan , lalu setelahnya aku akan akan terkekeh atau tersenyum kecil mendengar ceritanya .
"Kemudian aku bertemu denganmu , dijodohkan denganmu dan akhirnya kita mengikat janji untuk setia seumur hidup" ujar Ariel menyelesaikan ceritanya dan tersenyum kearahku .
Tapi aku tidak membalas senyumnnya , aku merasakan senyumannya begitu menyakitkan . Aku kembali mengingat bahwa aku telah membuatnya sengsara dengan tidak menilahi gadis yang ia cintai .
Aku dan Ariel memang sudah terikah dengan janji suci untuk setia sampai akhir hayat tapi dengan janji itupun aku merasa seperti mengikat janji kepada Tuhan untuk selalu menyakitinya karna janji itu tidak pernah diucapkan tulus oleh Ariel, dia hanya mematuhi ibunya untuk menikah denganku . Aku memang terlalu bodoh untuk menyetujui pernikahan itu .
Aku menatap kearah matanya membuatku hilang didalam matanya yang selalu aku sukai , aku merasa mataku penuh dengan airmata . Aku merasa bersalah padanya , dan demi Tuhan tatapan matanya membuatku ingin membunuh diriku sendiri karna setiap kali aku menatapnya rasa bersalah itu akan selalu muncul dan rasa bersalah itu seakan besar dan seakan - akan menghantuiku .
Aku menutup mataku lalu berusaha untuk menghirup udara sebanyak mungkin , berusaha untuk menghilangkan rasa sesak didadaku . Melihatku yang tak kunjung membalas ucapannya, Ariel mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemariku dengan erat kemudian matanya memperhatikan cincin pernikahan kami yang melingkar dijari manisku .
"Cincin ini melingkar sempurna dijarimu dan aku suka itu" ucapnya dan kemudian tangannya mengelus pelan tanganku membuatku merasakan hangat yang menjalar disekujur tubuhku karna sentuhan tangannya yang hangat.
"Ini terlihat sempurna karna memang cincinnya yang indah" ujarku membuatnya terkekeh kecil .
"dan semakin sempurna ketika kau memakainya" ... and i feel my hearts stops and my stomach flip when i heard he said some sweet things like that just like what i feel right now .
lalu ia mencium tanganku dan seketika membuatku meneteskan airmata yang sudah kubensung sejak tadi "kenapa menangis?" tanya Ariel dengan suara lembut ketika airmataku dengan sukses turun melewati pipiku lalu ia beranjak dari kursinya, melangkah ke arahku melangkah ke arahku dan memelukku dengan erat membuat tangisanku tak dapat kubendung lagi . Aku terisak dalam pelukkannya dan dia berusaha untuk menenangkanku , sambil terus bertanya apa yang membuatku menangis . dan aku hanya membalas pelukannya dengan erat dan membiarkan airmataku membasahi kemejanya .
"Aku mencintaimu" tanpa kusangka dua kata itu meluncur dengan bebas dari bibirku dan membuat ia menegang beberapa saat lalu dia kembali mengelus punggungku dengan lembut dan mngecup puncak kepalaku . Ingin rasanya aku berteriak pada Ariel untuk berhenti memperlakukanku secaramanis tapi disisi lain aku selalu ingin perlakuan manisnya yang terasa nyaman dan sakit secara bersamaan . Ingin rasanya aku berteriak bahwa rasa rasa sakit ini segera berhenti tapi aku tidak bisa . Ingin rasanya aku menampar pipinya dan bertanya kenapa ia tidak bisa mencintaiku seperti aku mencintainya . Ingin rasanya aku menampar pipinya , bahwa aku ada disini , bahwa dia sudah memiliki seorang istri . Ingin rasanya aku berkata bahwa dia harus benhenti menemui mantan kekasihnya yang masih ia cintai . Ingin rasanya aku untuk menyuruh ia segera melupakan gadis yang telah memiliki seluruh hati Ariel dan membaginya denganku tapi kemudian aku sadar , akulah penghancurnya .
Akulah yang menghancurkan hubungan dengan gadis yang ia cintai . Akulah yg membuatnya dengan terpaksa menikah denganku . Akulah yg mebuatnya sengsara tapi dia tidak pernah berbuat kasar kepadaku , dia tetap memperlakukanku dengan manis . Aku takut kehilangan Ariel tp disisi lain aku tidak mau terus menyiksanya dengan pernikahan yang sama sekali tidak ia inginkan .
XXX
Ini sudah kesekian kalinya aku melihat Ariel mengerang kesal , mengacak rambutnya karna prustasi dan mengusap wajahnya secara kasar . Aku tahu dia lelah akan sandiwara yang ia buat . Aku tahu dia lelah dengan segala perasaan palsu yang ia buat . Aku menutup mulutku ketika tau ia meneteskan airmatanya , hanya setetes tapi seperti ribuan pisau menusuk jantungku membuatku merasakan sakit yang luar biasa melihat airmata itu . Dia menderita dan itu semua salahku . Aku berjalan mundur perlahan dan kembali kekamar kemudian mengemasi barang - barangku . Dengan cepat aku memasukkan pakaian - pakaianku kedalam koper tp sebuah tangan menghentikan pergerakanku .
"Apa yang kau lakukan ?? " aku mendongak dan melihat Ariel memandangku bingung .
aku menyentakkan tangannya kasar . "Ada apa denganmu??" dia membentakku membuatku menatap kearah matanya dan aku merasakan mataku berair .
"Aku harus pergi" ucapku sambil menggelengkan kepalaku dan mencoba melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku .
'tapi kenapa ?" tanyanya bingung .
"Karna aku tidak mau menyakitimu Ariel !! Lepaskan aku" ucapku terisak lalu menunduk tidak berani menatapnya .
Dia menarik daguku , untuk menatap ke arah matanya "Kau tidak menyakitiku , sama sekali tidak"
"Hentikan ini Ariel , berhentilah membuatku terus mencintaimu , Berhentilah membuat dirimu sendiri terbeban oleh keberadaanku" dia memelukku dengan erat "Maafkan aku , maafkan aku karna tidak bisa membalas cintamu" ujarnya pelan .
kata - katanya menusuk hatiku dengan tepat . Matanya menatapku dengan lekat "You're the kindest person i've ever meet an you deserve someone better than me" andai ia tahu bahwa tidak ada orang yang lebih baik dari dirinya .
XXX
Aku melihatnya tertawa bebas bersama orang yang ia cintai . Jenis tawa yang selalu aku dambakan, aku selalu ingin membuatnya tertawa seperti itu , seperti tidak ada beban yang memberatkannya .
Aku sadar , aku bukanlah orang yang bisa membuatnya tertawa seperti ituu . Aku menatapnya dari jauh . Melihatnya bersama gadis yang ia cintai . Aku melihat pancaran mata yang penuh dengan kebahagian . Tidak lagi kulihat mata yang penuh dengan beban ketika bersamaku .
Aku tersenyum melihat mereka . Mereka terlihat bahagia .
Aku sudah melepasnya , membiarkan ia bersama gadis yang ia cintai . Lebih baik aku menyakiti hatiku sendiri daripada melihatnya menangis .
Aku terlalu mencintainya sampai - sampai terlalu takut untuk menyakitinya .
i once heard quote saying "When someone else happiness in your happiness , it called love" and Ariel happiness in my happiness so i guess called love ? Even though i still want to be a reason of happiness but as long as he is happy , it will make me happy ..
THE END ..
Arrrrrrhhhhh selesaiii jugaaa brooowww ..
i hope you like that ... :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar